Assalamu’alaikum Wr Wb
Yang terhormat kepala sekolah
Yang saya hormati Bapak/Ibu Guru serta staf Tata Usaha
Dan teman-teman yang saya cintai
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat-Nya sehingga kita dapat berkumpul disini dan pada hari ini saya akan menyampaikan pidato tentang Narkoba.
Di Indonesia jumlah pengguna narkoba begitu besar, karena lemahnya penegakan hukum di Indonesia para pengedar internasional dapat bekerja sama dengan warga negara Indonesia dan memperoleh keuntungan yang besar. Penyalahgunaan Narkotika dan zat aditif lainnya itu tentu membawa dampak yang luas dan kompleks. Sebagai dampaknya antara lain perubahan perilaku, gangguan kesehatan, menurunnya produktivitas kerja secara drastis, kriminalitas dan tindak kekerasan lainnya.
Penyalahgunaan narkoba dapat dicegah melalui program-program diantaranya mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, tidak bergaul dengan pengguna atau pengedar narkoba, tidak mudah terpengaruh ajakan atau rayuan untuk menggunakan narkoba. Pengguna narkoba biasanya lebih didominasi oleh para remaja dan anak sekolah.
Sekolah juga memberikan penyuluhan kepada para siswa tentang bahaya dan akibat dari penyalahgunaan narkoba melalui Guru BP, diskusi yang melibatkan para siswa dalam perencanaan untuk intervensi dan pencegahan penyalahgunaan narkoba di sekolah. Program lain yang cukup penting adalah program waspada Narkotika dengan cara mengenali ciri-ciri siswa yang menggunakan narkoba, mewaspadai adanya tamu yang tak dikenal atau pengedar, melakukan razia dadakan.
Biasanya pengedar maupun pemakai di sekolahh telah paham betul program-program disekolah untuk pencegahan pengguna atau pemakai disekolah, mereke tentu saja mengantisipasinya dengan sebaik yang mereka bisa. Sepintar apapun kiat mereka, ibarat sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Jurus-jurus jitu menghindari deteksi sekolah memang mereka kuasai, tapi mengingat sifat narkoba yang adiktif dan menutut dosis yang lebih tinggi maka disiplin cara aman akan terkuak juga
Untuk itu marilah kita hindari dan jauhi serta ikut memberantas penggunaan narkoba. Demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan apabila ada kesalahan dalam bertutur kata, saya mohon maaf. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih dan saya akhiri.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb..
Kamis, 14 Juni 2012
Pidato Menjadi Bidan
PIDATO MENJADI BIDAN ADALAH PILIHANKU
Assalamu’alaikum Wr Wb
Yang terhormat ketua yayasan
Yang saya hormati Bapak/Ibu dosen
Dan teman-teman yang saya cintai
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat-Nya sehingga kita dapat berkumpul disini dan pada hari ini saya akan menyampaikan pidato tentang Menjadi Bidan Adalah Pilihanku.
Hadirin yang saya hormati,
Bidan adalah Seseorang yang telah menyelesaikan program Pendidikan Bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktik kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan dan masa pasca persalinan ( post partum period ), memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak. Seorang bidan sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat karana ia mampu menerapakan ilmu kebidanan dalam kehidupan masyarakat. Penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab seorang bidan dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil,persalinan, nifas bayi stelah lahir serta KBm erupakan suatu bentuk aspirasi bidan terhadap masyarakat. penerapan ini termasuk tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi, dan mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga
medik lainnya. Dia mempunyai tugas penting dalam konsultasi dan pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi juga termasuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orang ttua, dan
asuhan anak. Dia bisa berpraktek di rumah sakit, klinik, unit kesehatan, rumah perawatan atau tempat-tempat pelayanan lainnya.
Bidan sebagai tenaga pemberian pelayanan kebidanan,
pelayanan KB dan pelayanan kesehatan masyarakat harus menyiapkan
diri untuk. Keikutsertaan suami pasien dalam kelahiran, dan menjaga
mutu pelayanan kebidanan.
Hadirin yang saya hormati,
Kebidanan adalah profesi yang peduli terhadap peningkatan kesehatan perempuan, berfokus pada kesehatan reproduksi dan pemahaman sepanjang siklus kehidupan perempuan atau dengan pendekatan yang bersifat holistik (Sofyan, 2001).
Menjadi adalah pilihanku karena ia mempunyai misi terhadap sumber daya manusia bahkan bagi bangsa dan negara. Adapun misinya yaitu:
1. Menyiapkan SDM Kebidanan yang menjadi Anggota Masyarakat yang Memiliki Kemampuan Akademik yang professional sehingga mampu mnerapkan, mengembangkan, memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan keterampilan kebidanan dan penyakit kandungan.
2. Menghasilkan SDM kebidanan Yang Berdisiplin dan berbudi yang Luhur.
3. Membantu Pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja mandiri, terampil, dan berkualitas.
4. Menggerakkan Pembangunan Kesehatan yang berazaskan pemanfaatan sumber daya manusia secara berkesinambungan untu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
5. Mempersiapkan tenaga bidan yang profesional dan adaftif terhadap perkembangan tehnologi dan kebutuhan layanan kebidanan masyarakat.
Untuk itu saya sangat bangga terhadap profesi bidan dan itu merupakan alasan saya memilih menjadi seorang bidan.
Demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan apabila ada kesalahan dalam bertutur kata, saya mohon maaf. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih dan saya akhiri.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb..
Assalamu’alaikum Wr Wb
Yang terhormat ketua yayasan
Yang saya hormati Bapak/Ibu dosen
Dan teman-teman yang saya cintai
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat-Nya sehingga kita dapat berkumpul disini dan pada hari ini saya akan menyampaikan pidato tentang Menjadi Bidan Adalah Pilihanku.
Hadirin yang saya hormati,
Bidan adalah Seseorang yang telah menyelesaikan program Pendidikan Bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktik kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan dan masa pasca persalinan ( post partum period ), memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak. Seorang bidan sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat karana ia mampu menerapakan ilmu kebidanan dalam kehidupan masyarakat. Penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab seorang bidan dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil,persalinan, nifas bayi stelah lahir serta KBm erupakan suatu bentuk aspirasi bidan terhadap masyarakat. penerapan ini termasuk tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi, dan mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga
medik lainnya. Dia mempunyai tugas penting dalam konsultasi dan pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi juga termasuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orang ttua, dan
asuhan anak. Dia bisa berpraktek di rumah sakit, klinik, unit kesehatan, rumah perawatan atau tempat-tempat pelayanan lainnya.
Bidan sebagai tenaga pemberian pelayanan kebidanan,
pelayanan KB dan pelayanan kesehatan masyarakat harus menyiapkan
diri untuk. Keikutsertaan suami pasien dalam kelahiran, dan menjaga
mutu pelayanan kebidanan.
Hadirin yang saya hormati,
Kebidanan adalah profesi yang peduli terhadap peningkatan kesehatan perempuan, berfokus pada kesehatan reproduksi dan pemahaman sepanjang siklus kehidupan perempuan atau dengan pendekatan yang bersifat holistik (Sofyan, 2001).
Menjadi adalah pilihanku karena ia mempunyai misi terhadap sumber daya manusia bahkan bagi bangsa dan negara. Adapun misinya yaitu:
1. Menyiapkan SDM Kebidanan yang menjadi Anggota Masyarakat yang Memiliki Kemampuan Akademik yang professional sehingga mampu mnerapkan, mengembangkan, memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan keterampilan kebidanan dan penyakit kandungan.
2. Menghasilkan SDM kebidanan Yang Berdisiplin dan berbudi yang Luhur.
3. Membantu Pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja mandiri, terampil, dan berkualitas.
4. Menggerakkan Pembangunan Kesehatan yang berazaskan pemanfaatan sumber daya manusia secara berkesinambungan untu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
5. Mempersiapkan tenaga bidan yang profesional dan adaftif terhadap perkembangan tehnologi dan kebutuhan layanan kebidanan masyarakat.
Untuk itu saya sangat bangga terhadap profesi bidan dan itu merupakan alasan saya memilih menjadi seorang bidan.
Demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan apabila ada kesalahan dalam bertutur kata, saya mohon maaf. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih dan saya akhiri.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb..
Falsafah Kebidanan
Falsafah Asuhan Kebidanan
Falsafah atau filsafat berasal dari bahasa arab yaitu
“ falsafa ” (timbangan) yang dapat diartikan pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya. (Harun Nasution, 1979)
Menurut bahasa Yunani “philosophy“berasal dari dua kata yaitu philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijkasanaan, pengetahuan, pengalaman praktis, intelegensi). Filsafat secara keseluruhan dapat diartikan “ cinta kebijaksanaan atau kebenaran.”
Falsafah kebidanan merupakan pandangan hidup atau penuntun bagi bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan. Falsafah kebidanan tersebut adalah :
1. Profesi kebidanan secara nasional diakui dalam Undang – Undang maupun peraturan pemerintah Indonesia yang merupakan salah satu tenaga pelayanan kesehatan professional dan secara internasional diakui oleh International Confederation of Midwives (ICM), FIGO dan WHO.
2. Tugas, tanggungjawab dan kewenangan profesi bidan yang telah diatur dalam beberapa peraturan maupun keputusan menteri kesehatan ditujukan dalam rangka membantu program pemerintah bidang kesehatan khususnya ikut dalam rangka menurunkan AKI, AKP, KIA, Pelayanan ibu hamil, melahirkan, nifas yang aman dan KB.
3. Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan manusia dan perbedaan budaya. Setiap individu berhak untuk menentukan nasib sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk berperan di segala aspek pemeliharaan kesehatannya.
4. Bidan meyakini bahwa menstruasi, kehamilan, persalinan dan menopause adalah proses fisiologi dan hanya sebagian kecil yang membutuhkan intervensi medic.
5. Persalinan adalah suatu proses yang alami, peristiwa normal, namun apabila tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal.
6. Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, untuk itu maka setiap wanita usia subur, ibu hamil, melahirkan dan bayinya berhak mendapat pelayanan yang berkualitas.
7. Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga yang membutuhkan persiapan mulai anak menginjak masa remaja.
8. Kesehatan ibu periode reproduksi dipengaruhi oleh perilaku ibu, lingkungan dan pelayanan kesehatan.
9. Intervensi kebidanan bersifat komprehensif mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
10. Manajemen kebidanan diselenggarakan atas dasar pemecahan masalah dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kebidanan yang professional dan interaksi social serta asas penelitian dan pengembangan yang dapat melandasi manajemen secara terpadu.
11. Proses kependidikan kebidanan sebagai upaya pengembangan kepribadian berlangsung sepanjang hidup manusia perlu dikembangkan dan diupayakan untuk berbagai strata masyarakat
Falsafah atau filsafat berasal dari bahasa arab yaitu
“ falsafa ” (timbangan) yang dapat diartikan pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya. (Harun Nasution, 1979)
Menurut bahasa Yunani “philosophy“berasal dari dua kata yaitu philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijkasanaan, pengetahuan, pengalaman praktis, intelegensi). Filsafat secara keseluruhan dapat diartikan “ cinta kebijaksanaan atau kebenaran.”
Falsafah kebidanan merupakan pandangan hidup atau penuntun bagi bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan. Falsafah kebidanan tersebut adalah :
1. Profesi kebidanan secara nasional diakui dalam Undang – Undang maupun peraturan pemerintah Indonesia yang merupakan salah satu tenaga pelayanan kesehatan professional dan secara internasional diakui oleh International Confederation of Midwives (ICM), FIGO dan WHO.
2. Tugas, tanggungjawab dan kewenangan profesi bidan yang telah diatur dalam beberapa peraturan maupun keputusan menteri kesehatan ditujukan dalam rangka membantu program pemerintah bidang kesehatan khususnya ikut dalam rangka menurunkan AKI, AKP, KIA, Pelayanan ibu hamil, melahirkan, nifas yang aman dan KB.
3. Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan manusia dan perbedaan budaya. Setiap individu berhak untuk menentukan nasib sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk berperan di segala aspek pemeliharaan kesehatannya.
4. Bidan meyakini bahwa menstruasi, kehamilan, persalinan dan menopause adalah proses fisiologi dan hanya sebagian kecil yang membutuhkan intervensi medic.
5. Persalinan adalah suatu proses yang alami, peristiwa normal, namun apabila tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal.
6. Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, untuk itu maka setiap wanita usia subur, ibu hamil, melahirkan dan bayinya berhak mendapat pelayanan yang berkualitas.
7. Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga yang membutuhkan persiapan mulai anak menginjak masa remaja.
8. Kesehatan ibu periode reproduksi dipengaruhi oleh perilaku ibu, lingkungan dan pelayanan kesehatan.
9. Intervensi kebidanan bersifat komprehensif mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
10. Manajemen kebidanan diselenggarakan atas dasar pemecahan masalah dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kebidanan yang professional dan interaksi social serta asas penelitian dan pengembangan yang dapat melandasi manajemen secara terpadu.
11. Proses kependidikan kebidanan sebagai upaya pengembangan kepribadian berlangsung sepanjang hidup manusia perlu dikembangkan dan diupayakan untuk berbagai strata masyarakat
Bidan
Pengertian bidan adalah :
Seseorang yang telah menyelesaikan program Pendidikan Bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktik kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan dan masa pasca persalinan ( post partum period ), memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak.
Asuhan ini termasuk tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi, dan mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medik lainnya. Dia mempunyai tugas penting dalam konsultasi dan pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi juga termasuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orang tua, dan meluas ke daerah tertentu dari ginekologi, keluarga berencana dan asuhan anak. Dia bisa berpraktik di rumah sakit, klinik, unit kesehatan, rumah perawatan atau tempat-tempat lainnya.
5. Pengertian Bidan Indonesia :
Dengan memperhatikan aspek sosial budaya dan kondisi masyarakat Indonesia, maka Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah: seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan
Seseorang yang telah menyelesaikan program Pendidikan Bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktik kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan dan masa pasca persalinan ( post partum period ), memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak.
Asuhan ini termasuk tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi, dan mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medik lainnya. Dia mempunyai tugas penting dalam konsultasi dan pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi juga termasuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orang tua, dan meluas ke daerah tertentu dari ginekologi, keluarga berencana dan asuhan anak. Dia bisa berpraktik di rumah sakit, klinik, unit kesehatan, rumah perawatan atau tempat-tempat lainnya.
5. Pengertian Bidan Indonesia :
Dengan memperhatikan aspek sosial budaya dan kondisi masyarakat Indonesia, maka Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah: seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan
Wacana
WACANA
Kursi mewah yang banyak dipakai di hotel, vila, dan rumah-rumah mewah di luar negeri itu berasal dari Cirebon. Barang itu merupakan hasil karya tangan dan jiwa seni anak-anak desa di daerah Cirebon. Dengan alat-alat sederhana, para pengrajin memotong-motong rotan. Kemudian, menciptakan berbagai bentuk macam kerangka kursi dan meja. Setelah kerangka itu diampelas, lalu dipasang anyaman penggati rotan yang terbuat dari kertas semen. Kertas semen itu dipilin-pilin menjadi seutas tali, lalu dianyam. Tali itu dianyam dengan mesin pada kawat yang telah dibungkus kertas semen. Dengan demikian, terbentuklah anyaman tali kertas seperti lembaran kertas yang disebut loom. Bahan baku berupa lembaran anyaman kertas ini masih didatangkan dari eropa.
1. Wacana di atas merupakan Wacana Prosedural, karena wacana di atas menceritakan proses pembuatan meja dan kursi mewah yang terbuat dari rotan. Dan sesuai ciri wacana prosedural bahwa wacana di atas peristiwa yang dilukiskan tidak terikat dengan unsur waktu. Adapun langkah-langkah pembuatan kursi dan meja itu adalah
a. Memotong-motong rotan,
b. Menciptakan berbagai bentuk macam kerangka kursi dan meja,
c. Mengampelas kerangka kursi dan meja,
d. Memasang anyaman penggati rotan yang terbuat dari kertas semen,
e. Kertas semen itu dipilin-pilin menjadi seutas tali,
f. Tali itu dianyam dengan mesin pada kawat yang telah dibungkus kertas semen, dan
g. Terbentuklah anyaman tali kertas seperti lembaran kertas.
2. Konteks wacana di atas akan dikaji menurut Halliday, karena konteks wacana di atas tidak sesuai dengan pendapat Del Hymes yang mengemukakan enam unsur pembentuk wacana. Dari keenam unsur itu, ada beberapa unsur yang tidak ada dalam wacana di atas. Di antaranya, ends (hasil), amanat (message), dan tidak menampakkan norma percakapan. Oleh karena itu, wacana di atas akan dianalisis konteksnya menurut pendapat Halliday, bahwa konteks wacana itu ada tiga, yaitu:
a. Medan wacana di atas adalah proses pembuatan kursi dan meja mewah.
b. Pelibat wacananya adalah perajin anak-anak desa di daerah Cirebon.
Hubungan mereka dengan wacana di atas karena mereka yang membuat meja dan kursi mewah.
c. Sarana wacananya adalah bersifat tulisan. Karena tidak ada dialog dalam wacana itu.
3. Tema : Barang mewah di luar negeri berasal dari Cirebon.
Topik : proses pembuatan kursi mewah
Judul : Perajin Cirebon Pembuat meja dan kursi mewah.
Kursi mewah yang banyak dipakai di hotel, vila, dan rumah-rumah mewah di luar negeri itu berasal dari Cirebon. Barang itu merupakan hasil karya tangan dan jiwa seni anak-anak desa di daerah Cirebon. Dengan alat-alat sederhana, para pengrajin memotong-motong rotan. Kemudian, menciptakan berbagai bentuk macam kerangka kursi dan meja. Setelah kerangka itu diampelas, lalu dipasang anyaman penggati rotan yang terbuat dari kertas semen. Kertas semen itu dipilin-pilin menjadi seutas tali, lalu dianyam. Tali itu dianyam dengan mesin pada kawat yang telah dibungkus kertas semen. Dengan demikian, terbentuklah anyaman tali kertas seperti lembaran kertas yang disebut loom. Bahan baku berupa lembaran anyaman kertas ini masih didatangkan dari eropa.
1. Wacana di atas merupakan Wacana Prosedural, karena wacana di atas menceritakan proses pembuatan meja dan kursi mewah yang terbuat dari rotan. Dan sesuai ciri wacana prosedural bahwa wacana di atas peristiwa yang dilukiskan tidak terikat dengan unsur waktu. Adapun langkah-langkah pembuatan kursi dan meja itu adalah
a. Memotong-motong rotan,
b. Menciptakan berbagai bentuk macam kerangka kursi dan meja,
c. Mengampelas kerangka kursi dan meja,
d. Memasang anyaman penggati rotan yang terbuat dari kertas semen,
e. Kertas semen itu dipilin-pilin menjadi seutas tali,
f. Tali itu dianyam dengan mesin pada kawat yang telah dibungkus kertas semen, dan
g. Terbentuklah anyaman tali kertas seperti lembaran kertas.
2. Konteks wacana di atas akan dikaji menurut Halliday, karena konteks wacana di atas tidak sesuai dengan pendapat Del Hymes yang mengemukakan enam unsur pembentuk wacana. Dari keenam unsur itu, ada beberapa unsur yang tidak ada dalam wacana di atas. Di antaranya, ends (hasil), amanat (message), dan tidak menampakkan norma percakapan. Oleh karena itu, wacana di atas akan dianalisis konteksnya menurut pendapat Halliday, bahwa konteks wacana itu ada tiga, yaitu:
a. Medan wacana di atas adalah proses pembuatan kursi dan meja mewah.
b. Pelibat wacananya adalah perajin anak-anak desa di daerah Cirebon.
Hubungan mereka dengan wacana di atas karena mereka yang membuat meja dan kursi mewah.
c. Sarana wacananya adalah bersifat tulisan. Karena tidak ada dialog dalam wacana itu.
3. Tema : Barang mewah di luar negeri berasal dari Cirebon.
Topik : proses pembuatan kursi mewah
Judul : Perajin Cirebon Pembuat meja dan kursi mewah.
Metode Penelitian
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan di laksanakan mulai bulan April sampai bulan Mei tahun 2012 bertempat di Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna.
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah sebagaimana yang dikemukakan oleh Helius Syamsudin (1996: 67-187).
Penelitian sejarah mempunyai empat tahap, yaitu: (1) heuristik (pengumpulan data), (2) kritik sumber (analisa data), (3) interpretasi data (penafsiran data), (4) historiografi (penyusunan data).
Mengacu pada pendapat yang dikemukakan oleh Helius Syamsudin tersebut, maka dalam penelitian ini telah melalui prosedur atau tahapan-tahapan kerja sebagai berikut:
1. Heuristik (Pengumpulan Data)
Pada tahap ini penulis berusaha mendapatkan dan mengumpulkan data serta informasi yang relevan dengan permasalahan penelitian ini dengan menempuh langkah-langkah:
a. Penelitian Kepustakaan (Library Research) yaitu sumber yang diperoleh atau melalui buku-buku relevan ,skripsi yang relevan dengan objek permasalahan yang dikaji dalam hasil penelitian.
b. Penelitian Lapangan (Field Research) yaitu dengan cara:
1) Pengamatan (Observasi) yaitu sumber yang diperoleh melalui pengamatan terhadap objek yang diteliti yaitu transportasi.
2) Wawancara (Interview) yaitu sumber yang diperoleh sebagai peneliti melalui tanya jawab langsung dengan para informan yang terdiri dari tokoh masyarakat dan aparat pemerintah yang banyak mengetahui perkembangan transportasi darat di Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna.
2. Kritik Sumber (Analisis Data)
Pada tahap ini peneliti melakukan penilaian terhadap sumber yang telah terkumpul khususnya sumber yang masih digunakan otensitasnya dan kredibilitas (kebenaran) sumber yang telah terkumpul tersebut, peneliti melakukan kritik sumber yakni:
a. Kritik Ekstern
Pada tahap ini penulis melakukan verifikasi atau pengujian terhadap aspek-aspek “Luar” dari sumber sejarah. Sebelum semua kesaksian yang berhasil dikumpul oleh penulis dapat digunakan untuk merekonstruksi masa lalu maka terlebih dahulu melakukan pemeriksaan yang ketat terhadap sumber sejarah. Pemeriksaan yang ketat ini mempunyai alasan yang kuat sehubungan dengan beberpa sumber yang telah dibuktikan palsu, dalam penelitian atau investigasi yang dilakukan telah ditemukan bahwa sumber-sumber itu telah dipalsukan atau dibuat-buat. Beberapa sumber lain, ternyata dengan berbagai alasan telah memberikan kesaksian yang tidak dapat diandalkan, aspek ekstren dari suatu sumber, artinya sumber adalah berkaitan dengan persoalan apakah sumber itu memang merupakan sumber, artnnya sumber sejati yang kita buktikan.Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis telah berhasil mengumpulkan sumber-sumber yang benar sumber sejarah.
b. Kritik Intern
Pada tahap ini menekankan aspek “dalam” yaitu diisi dari sumber: kesaksian (testimoni). Kemudian penulis mengadakan penelitian terhadap kesaksian itu, apakah kesaksiaan itu dapat diandalkan (reliable) atau tidak, dengan cara mengajukan pertanyaan pokok yaitu:
1) Apakah saksi dalam memberikan kesaksian mampu menyatakan? Hal ini menyangkut untuk menyatakan kebenaran.
2) Apakah saksi mau menyatakan kebenaran? Hal ini menyangkut kemauan atau kejujuran untuk menyatakan kebenaran
3) Apakah saksi melaporkan secara akurat mengenai detail yang sedang diuji? Hal ini menyangkut tingkat akurasi laporan.
4) Apakah ada pendukung (koroborasi) secara merdeka terhadap detail yang sedang di periksa? Hal ini menyangkut dukungan sumber lain tentang informasi yang sama.
Setelah empat pertanyaan pokok tersebut diatas, maka penulis dapat memberikan kebenaran dari sumber sejarah.
3. Interpretasi (Penafsiran Data)
Pada tahap ini peneliti memberikan penafsiran terhadap sumber yang telah diverifikasi. Penafsiran sumber dilakukan dengan cara:
a. peneliti mendapatkan kebenaran fakta ynag Analisis (Menguraikan) yaitu peneliti menguraikan isi, sumber, berdasarkan sumber dan fakta yang berhasil dihimpun dan telah lolos dari verifikasi serta sudah di interpretasikan sehingga sesuai dengan kenyataan di lapangan.
b. Sintesis (Menyatukan) yaitu memberikan penafsiran sumber dengan cara menghubung-hubungkan antara sumber satu dengan sumber yang lainnya sehingga didapatkan fakta sejarah yang dipercaya secara ilmiah.
4. Historigrafi (Penyusunan Data)
Penyusunan data merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian penelitian sejarah. Pada tahap peneliti berusaha menulis hasil-hasil penelitian yang mengutamakan aspek kronologi yang sistematis berdasarkan sumber dan fakta yang berhasil dihimpun dan lolos dari verifikasi serta memudahkan untuk menginterpretasikan sehingga menjadi karya tulis ilmiah.
C. Sumber Data Penelitian
Sumber data penelitian yang digunakan oleh peneliti terbagi dalam tiga bagian yaitu sumber lisan, sumber tertulis dan sumber visual.
1. Sumber lisan, yaitu data yang diperoleh melalui keterangan lisan (wawancara) kepada aparat pemerintah, tokoh masyarakat dan pemilik mobil yang dianggap dapat memberikan informasi tentang obyek yang diteliti.
2. Sumber tertulis, yaitu data yang berupa hasil penelitian menyangkut transportasi baik darat, laut maupun sungai, selain itu diperoleh melalui telah buku-buku atau literatur-literatur serta majalah-majalah ilmiah yang mendukung data dalam penyusunan penelitian ini.
3. Sumber visual, (benda) yaitu data yang diperoleh melalui hasil pengamatan terhadap benda-benda seperti sepeda, becak, motor dan mobil yang dipergunakan sebagai sarana transportasi darat Kecamatan Kabawo.
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan di laksanakan mulai bulan April sampai bulan Mei tahun 2012 bertempat di Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna.
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah sebagaimana yang dikemukakan oleh Helius Syamsudin (1996: 67-187).
Penelitian sejarah mempunyai empat tahap, yaitu: (1) heuristik (pengumpulan data), (2) kritik sumber (analisa data), (3) interpretasi data (penafsiran data), (4) historiografi (penyusunan data).
Mengacu pada pendapat yang dikemukakan oleh Helius Syamsudin tersebut, maka dalam penelitian ini telah melalui prosedur atau tahapan-tahapan kerja sebagai berikut:
1. Heuristik (Pengumpulan Data)
Pada tahap ini penulis berusaha mendapatkan dan mengumpulkan data serta informasi yang relevan dengan permasalahan penelitian ini dengan menempuh langkah-langkah:
a. Penelitian Kepustakaan (Library Research) yaitu sumber yang diperoleh atau melalui buku-buku relevan ,skripsi yang relevan dengan objek permasalahan yang dikaji dalam hasil penelitian.
b. Penelitian Lapangan (Field Research) yaitu dengan cara:
1) Pengamatan (Observasi) yaitu sumber yang diperoleh melalui pengamatan terhadap objek yang diteliti yaitu transportasi.
2) Wawancara (Interview) yaitu sumber yang diperoleh sebagai peneliti melalui tanya jawab langsung dengan para informan yang terdiri dari tokoh masyarakat dan aparat pemerintah yang banyak mengetahui perkembangan transportasi darat di Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna.
2. Kritik Sumber (Analisis Data)
Pada tahap ini peneliti melakukan penilaian terhadap sumber yang telah terkumpul khususnya sumber yang masih digunakan otensitasnya dan kredibilitas (kebenaran) sumber yang telah terkumpul tersebut, peneliti melakukan kritik sumber yakni:
a. Kritik Ekstern
Pada tahap ini penulis melakukan verifikasi atau pengujian terhadap aspek-aspek “Luar” dari sumber sejarah. Sebelum semua kesaksian yang berhasil dikumpul oleh penulis dapat digunakan untuk merekonstruksi masa lalu maka terlebih dahulu melakukan pemeriksaan yang ketat terhadap sumber sejarah. Pemeriksaan yang ketat ini mempunyai alasan yang kuat sehubungan dengan beberpa sumber yang telah dibuktikan palsu, dalam penelitian atau investigasi yang dilakukan telah ditemukan bahwa sumber-sumber itu telah dipalsukan atau dibuat-buat. Beberapa sumber lain, ternyata dengan berbagai alasan telah memberikan kesaksian yang tidak dapat diandalkan, aspek ekstren dari suatu sumber, artinya sumber adalah berkaitan dengan persoalan apakah sumber itu memang merupakan sumber, artnnya sumber sejati yang kita buktikan.Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis telah berhasil mengumpulkan sumber-sumber yang benar sumber sejarah.
b. Kritik Intern
Pada tahap ini menekankan aspek “dalam” yaitu diisi dari sumber: kesaksian (testimoni). Kemudian penulis mengadakan penelitian terhadap kesaksian itu, apakah kesaksiaan itu dapat diandalkan (reliable) atau tidak, dengan cara mengajukan pertanyaan pokok yaitu:
1) Apakah saksi dalam memberikan kesaksian mampu menyatakan? Hal ini menyangkut untuk menyatakan kebenaran.
2) Apakah saksi mau menyatakan kebenaran? Hal ini menyangkut kemauan atau kejujuran untuk menyatakan kebenaran
3) Apakah saksi melaporkan secara akurat mengenai detail yang sedang diuji? Hal ini menyangkut tingkat akurasi laporan.
4) Apakah ada pendukung (koroborasi) secara merdeka terhadap detail yang sedang di periksa? Hal ini menyangkut dukungan sumber lain tentang informasi yang sama.
Setelah empat pertanyaan pokok tersebut diatas, maka penulis dapat memberikan kebenaran dari sumber sejarah.
3. Interpretasi (Penafsiran Data)
Pada tahap ini peneliti memberikan penafsiran terhadap sumber yang telah diverifikasi. Penafsiran sumber dilakukan dengan cara:
a. peneliti mendapatkan kebenaran fakta ynag Analisis (Menguraikan) yaitu peneliti menguraikan isi, sumber, berdasarkan sumber dan fakta yang berhasil dihimpun dan telah lolos dari verifikasi serta sudah di interpretasikan sehingga sesuai dengan kenyataan di lapangan.
b. Sintesis (Menyatukan) yaitu memberikan penafsiran sumber dengan cara menghubung-hubungkan antara sumber satu dengan sumber yang lainnya sehingga didapatkan fakta sejarah yang dipercaya secara ilmiah.
4. Historigrafi (Penyusunan Data)
Penyusunan data merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian penelitian sejarah. Pada tahap peneliti berusaha menulis hasil-hasil penelitian yang mengutamakan aspek kronologi yang sistematis berdasarkan sumber dan fakta yang berhasil dihimpun dan lolos dari verifikasi serta memudahkan untuk menginterpretasikan sehingga menjadi karya tulis ilmiah.
C. Sumber Data Penelitian
Sumber data penelitian yang digunakan oleh peneliti terbagi dalam tiga bagian yaitu sumber lisan, sumber tertulis dan sumber visual.
1. Sumber lisan, yaitu data yang diperoleh melalui keterangan lisan (wawancara) kepada aparat pemerintah, tokoh masyarakat dan pemilik mobil yang dianggap dapat memberikan informasi tentang obyek yang diteliti.
2. Sumber tertulis, yaitu data yang berupa hasil penelitian menyangkut transportasi baik darat, laut maupun sungai, selain itu diperoleh melalui telah buku-buku atau literatur-literatur serta majalah-majalah ilmiah yang mendukung data dalam penyusunan penelitian ini.
3. Sumber visual, (benda) yaitu data yang diperoleh melalui hasil pengamatan terhadap benda-benda seperti sepeda, becak, motor dan mobil yang dipergunakan sebagai sarana transportasi darat Kecamatan Kabawo.
Penelitian Terdahulu
E. Penelitian Terdahulu
Zainudin dalam penelitiannya mengenai perkembangan terminal Boepinang sebagai pusat transportasi darat di Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana lebih spesifik membahas mengenai terminal sebagai pusat transportasi darat Kecamatan Poelang.
Dalam uraian penelitiannya dia menguraikan sejarah Terminal Boepinang Bagaimana perkembangan Terminal Boepinang, arus penumpang dan barang keluar masuk di terminal Boepinang, aktivitas lain terminal Boepinang.
Penelitian yang ditulis oleh Sarman (2008) dengan judul “Perkembangan Transportasi di Sungai Konaweeha dan DampaknyaTerhadap Masyarakat Desa Anggopiu Kecamatan Uepai Kabupaten Konawe.”Penulis berusaha mengungkap latar belakang munculnya transportasi Sungai Konaweeha di Desa Anggopiu, Perkembangan transportasi Sungai Konaweeha di Desa Anggopiu, Dampak perkembangan transportasi Sungai Konaweeha terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat Desa Anggopiu.
Penelitian lain yang ditulis oleh Ismail (2009) dengan judulnya “Tinjauan Sejarah Perkembangan Transportasi Laut Masyarakat di Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana”.Dalam uraian penelitiannya dia lebih menekankan pada jaringan transportasi laut dengan menggunakan transportasi yang sifatnya masih sederhana (tradisional) antara lain sampan (koli-koli) dan perahu layar (Sope dan Boti) baik menggunakan layar maupun sudah menggunakan tenaga mesin dan kapal Super Jet (modern).
Zainudin dalam penelitiannya mengenai perkembangan terminal Boepinang sebagai pusat transportasi darat di Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana lebih spesifik membahas mengenai terminal sebagai pusat transportasi darat Kecamatan Poelang.
Dalam uraian penelitiannya dia menguraikan sejarah Terminal Boepinang Bagaimana perkembangan Terminal Boepinang, arus penumpang dan barang keluar masuk di terminal Boepinang, aktivitas lain terminal Boepinang.
Penelitian yang ditulis oleh Sarman (2008) dengan judul “Perkembangan Transportasi di Sungai Konaweeha dan DampaknyaTerhadap Masyarakat Desa Anggopiu Kecamatan Uepai Kabupaten Konawe.”Penulis berusaha mengungkap latar belakang munculnya transportasi Sungai Konaweeha di Desa Anggopiu, Perkembangan transportasi Sungai Konaweeha di Desa Anggopiu, Dampak perkembangan transportasi Sungai Konaweeha terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat Desa Anggopiu.
Penelitian lain yang ditulis oleh Ismail (2009) dengan judulnya “Tinjauan Sejarah Perkembangan Transportasi Laut Masyarakat di Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana”.Dalam uraian penelitiannya dia lebih menekankan pada jaringan transportasi laut dengan menggunakan transportasi yang sifatnya masih sederhana (tradisional) antara lain sampan (koli-koli) dan perahu layar (Sope dan Boti) baik menggunakan layar maupun sudah menggunakan tenaga mesin dan kapal Super Jet (modern).
Langganan:
Postingan (Atom)